Hidup adalah sebuah perjalanan

Karunia indah dari Tuhan adalah waktu, kesempatan kita hidup kita terbatas dan kita menuju ke kehidupan yang abadi, tengoklah apa yang sudah kita persiapkan untuk bekal hidup setelah hidup kita disini

Rabu, 03 Oktober 2018

TIM PKM TEKNIK INDUSTRI UPN “VETERAN” YOGYAKARTA ADAKAN PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN UNTUK MENGEMBANGKAN INDUSTRI BATIK PLALANGAN DAN MANTARAN DESA PANDOWOHARJO SLEMAN YOGYAKARTA

Industri kecil dan menengah (IKM) telah tumbuh dan berkembang dengan pesat di Yogyakarta, diantaranya adalah produk batik. Batik menjadi salah satu keunggulan dan daya tarik yang mampu mendukung Yogyakarta sebagai tujuan pariwisata. Ditambah lagi dengan dikukuhkannya hari batik nasional setiap tanggal 2 Oktober membuat industri batik di Indonesia semakin terbuka untuk dikembangkan.

Guna mendukung pengembangan industri batik khususnya di wilayah Yogyakarta, Tim Pengabdian kepada Masyarakat yang terdiri dari staf pengajar Jurusan Teknik Industri UPN “Veteran” Yogyakarta, yaitu Puryani dan Laila Nafisah, bekerjasama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) telah melakukan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat di dua industri Batik di wilayah Sleman Yogyakarta. Yaitu Industri Batik Plalangan dan Industri Batik Mantaran.

Tim PKM Teknik Industri UPN Veteran Yogyakarta

Industri batik Plalangan berada di Padukuhan Plalangan Pandowoharjo Sleman Yogyakarta. Diberi nama industri batik Ayu Arimbi dengan ketua Ibu Tatik Susilowati, dengan anggota sebanyak 16 orang. Produk yang dihasilkan berupa batik cap dan batik tulis. Ciri khas yang dikembangkan dan menjadi daya saing industri batik ini adalah penggunaan kombinasi warna sintetis dan pewarna alami yang ramah lingkungan. Para pengrajin terdiri dari ibu-ibu rumah tangga.

Proses produksi masih dilakukan secara sederhana dan menggunakan alat seadanya. Instalasi pengolahan limbah dengan bahan sistentis juga masih sederhana meskipun limbah yang dihasilkan tergolong mengganggu. Daerah pemasarannya masih terbatas meliputi DIY dan sekitarnya. Pemesanan dari luar Yogyakarta, apalagi luar negeri masih sangat jarang. Hal ini disebabkan strategi pemasaran yang dilakukan masih secara sederhana dengan cara menunggu pemesanan dari pelanggan di sekitar Sleman dan mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman. Selain itu, permasalahan keunikan khusus dari motif batik dengan memanfaatkan kearifan lokal Kabupaten Sleman belum di-explorasi ke dalam produk batik.

Sedangkan Industri batik Mantaran berada di Padukuhan Mantaran Trimulyo Sleman Yogyakarta. Anggota industri batik Mantaran sebanyak 20 orang yang terdiri dari 16 ibu dan 4 bapak, yang diketuai oleh Ibu Rita Lestari. Sebagian besar anggota batik Mantaran adalah ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya sebagai buruh tani. Pada awal industri ini dibentuk, ibu-ibu rumah tangga anggota industri batik ini tidak memiliki keahlian membatik. Namun setelah pada tahun 2015 mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, akhirnya terampil menorehkan canting di atas lembaran kain.

Keunikan dari batik Mantaran adalah semua produksinya pada awalnya merupakan batik tulis yang dilakukan secara manual. Faktor daya saing dari batik Mantaran adalah fokus menggunakan zat pewarna alam. Warna alam sengaja dipilih karena selain diminati pasar juga sangat aman bagi kesehatan dan lingkungan sekitar. Zat warna alam yang digunakan untuk mewarnai batik diambil dari bagian-bagian tanaman, seperti kayu, daun, bunga, akar dan kulit buah. Batik warna alam tampil ekslusif karena tidak bisa diproduksi secara masal. Setiap proses pewarnaan menghasilkan warna yang berbeda dalam setiap kain. Hal ini karena penggunaan zat warna alam sangat tergantung pada cuaca, jenis tumbuhan yang digunakan dan umur tanaman. Sama dengan batik Plalangan, permasalahan motif batik juga belum memanfaatkan kearifan lokal Kabupaten Sleman ke dalam produk batik.

Seperti di industri batik Plalangan, proses produksi di industri batik Mantaran masih dilakukan secara sederhana. Perbedaanya proses dilakukan tanpa menggunakan proses cap, semuanya dilakukan dengan manual yang disebut batik tulis. Namun pada saat ini industri batik Mantaran sudah menghasilkan batik menggunakan proses cap. Peralatan yang digunakan untuk proses cap ( meja cap) merupakan pinjaman dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang dimensinya tidak sesuai dengan postur tubuh yang mengoperasikannya (tidak ergonomis). Selain itu lingkungan kerjanya juga masih banyak yang harus diperbaiki. Penghasilan yang diterima pengrajin tergantung dari besarnya produk yang terjual.

Produk-produk batik hasil produksi industri batik Plalangan dan Mantaran

Jika ditinjau secara seksama di lapangan, permasalahan yang dihadapi kedua industri batik tersebut hampir sama. Diantaranya adalah belum adanya motif khas yang berbasis kearifan lokal Sleman, belum adanya teknologi proses penjemuran yang memadai terutama pada saat musim penghujan, belum adanya teknologi yang mempercepat proses pembuatan pola pembatikan, belum adanya teknologi yang mempercepat proses pelorotan malam, belum adanya instalasi pengolahan limbah yang memadai, dan belum adanya teknologi yang mempercepat proses pelorotan malam.

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi di lapangan, maka secara umum kegiatan-kegiatan program PKM yang dilakukan oleh Puryani dan Laila Nafisah dalam mencari solusi permasalahan tersebut diatas adalah melakukan kegiatan-kegiatan berupa pemanfaatan alat hasil rancangan mahasiswa (Skripsi) di Jurusan Teknik Industri melalui pelatihan-pelatihan dan pendampingan. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan adalah
  1. Focus Group Discussion untuk mendesain motif batik khas dengan memanfaatkan kearifan lokal Sleman yang akan didaftarkan sebagai HKI di Kemkumham. Hasil dari kegiatan ini diperoleh kesepakatan untuk medaftarkan motif khas dari Industri Batik Plalangan berupa motif bambu, sedangkan dari Industri Batik Mantaran berupa motif melon
  2. Memberikan pelatihan serta pendampingan penggunaan peralatan penjemuran yang lebih efektif dan efisien
  3. Memberikan pelatihan serta pendampingan penggunaan sarana kerja dan peralatan berupa meja pemolaan yang ergonomis untuk membuat pola batik
  4. Memberikan pelatihan serta pendampingan penggunaan peralatan untuk pelorotan malam
  5. Melakukan studi banding pada industri batik yang telah membuat instalasi pengolahan limbah (IPAL), serta menerapkannya

Dengan adanya program PKM ini diharapkan kedua industri batik tersebut dapat berkembang dan meningkatkan daya saing dalam bentuk peningkatan kuantitas, kualitas, dan nilai tambah sehingga pendapatan anggota industri batik  Plalangan dan Mantaran dapat meningkat.

Rabu, 15 Agustus 2018

Buku Participatory Rural Appraisal (PRA) for Corporate Social Responsibility (CSR)


Judul Buku : Participatory Rural Appraisal (PRA) for Corporate Social Responsibility (CSR)
Penulis : Ahmad Muhsin, Laila Nafisah, Yuni Siswanti
Penerbit : Deepublish Yogyakarta 
ISBN : 978-602-475-641-3
Tebal : 147 hlm

Ringkasan :

Buku ini merupakan hasil kajian pengalaman dan penelitan kami di lapangan sebagai seorang dosen yang mendarmabaktikan dirinya untuk melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ilmu pengetahuan tidak hanya ditularkan melalui bangku kuliah namun penting untuk dapat digunakan sebagai solusi dan pencerahan bagi masyarakat, terutama dalam rangka menyelesaikan problematikan dan permasalahan yang dihadapi warga. Untuk dapat memberikan kontribusi dalam ikut andil memberikan solusi maka dibutuhkan metodologi dan teknik dalam mengidentifikasi permasalahan, menggali potensi, dan pada akhirnya merumuskan solusi yang bisa tepat sasaran.
Buku ini membantu para peneliti dan pengambil kebijakan baik pemerintah maupun perusahaan yang akan melakukan corporate social responsibility (CSR) untuk dapat menjembatani permasalahan diatas sehingga program yang akan dijalankan dapat memberikan dampak dan manfaat yang maksimal bagi warga dan lingkungan. Manfaat yang lebih besar adalah mewujudkan upaya agar masyarakat dapat mengatasi masalah yang dihadapinya secara mandiri atau melakukan pemberdayaan terhadap dirinya sendiri.
Buku ini bertujuan untuk memandu merumuskan model pemberdayaan masyarakat yang tepat sasaran dengan berdasarkan hasil assesment  atau kajian yang digali langsung dari masyarakat sebagai sasaran program dengan pihak-pihak yang terkait seperti Pemerintah Desa, Karang Taruna dan Kelompok Masyarakat. Pendekatan ini dikenal dengan sebutan Participatory Rural Appraisal (PRA) yaitu melibatkan secara langsung masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam hal perumusan masalah mereka, menggali solusi yang tepat, memberikan pelatihan dan pendampingan terhadap pelaksanaan rumusan model pemberdayaan yang dihasilkan.
Proses pemberdayaan masyarakat (community empowerment) banyak berhenti dijalan atau selesai bersamaan dengan habisnya dana dan masyarakat masih belum berdaya, hal ini disebabkan karena warga diposisikan sebagai obyek yang hanya menerima. Maka memberdayakan adalah mengupayakan masyarakat untuk dapat mengenali permasalahan, mengenali kekuatannya dan mengembangkan kemampuannya sendiri  sehingga dengan kemampuan yang dimiliki mampu mengatasi masalah serta berkembang secara mandiri.
Buku ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sebagai suatu proses dalam rangka mengembangkan dan memperkuat kemampuan masyarakat agar mampu terus terlibat dalam proses pembangunan yang berlangsung secara dinamis sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi serta dapat mengambil keputusan secara bebas (independent) dan mandiri menyesuaikan perubahan yang terjadi dilingkungannya.

Minggu, 11 Maret 2018

JUDUL MATERI TUGAS INDIVIDU KONSEP TEKNOLOGI 2018

ATURAN MAIN :

  1. BUATLAH MAKALAH SESUAI TOPIK MASING-MASING, SETIAP MAHASISWA TELAH DITENTUKAN TEMA MATERI YANG HARUS DISUSUN
  2. MAKALAH HARUS ORISINAL, BEBAS PLAGIASI, DAN MERUPAKAN HASIL KARYA SENDIRI
  3. SUMBER MATERI MAKALAH WAJIB DARI BUKU (WAJIB) SEHINGGA WAJIB MENCAMTUMKAN SUMBER : NAMA PENGARANG, TAHUN, JUDUL, PENERBIT, KOTA DAN DILARANG COPY-PASTE DARI INTERNET.
  4. SUMBER BUKU BISA BERBAHASA INDONESIA ATAU INGGRIS ATAU BAHASA INTERNASIONAL LAIN, TULISKAN KETERANGAN DIMANA ANDA MEMPEROLEH BUKU SEMISAL : PERPUSTAKAAN, GOOGLE BOOKS
  5. BERIKAN KESIMPULAN PADA AKHIR TULISAN (SESUAI PERSEPSI – ANALISIS – PEMAHAMAN ANDA)
  6. FORMAT PENULISAN : FONT TIMES NEW ROMAN, 12 PT, SPASI 1,5 MARGIN KERTAS 2,54 CM UKURAN A4
  7. PENGIRIMAN TUGAS SERENTAK PADA 20 MARET 2018 JAM KERJA (08.00 – 16.00) VIA EMAIL KE ahmad.muhsin@upnyk.ac.id  (DILUAR JADWAL INI DIANGGAP TIDAK MENGUMPULKAN TUGAS) DENGAN JUDUL SUBJECT EMAIL : KELAS_NO URUT_JUDUL TUGAS

FORMAT PENULISAN :


MATERI TUGAS :
NO JUDUL BAHASAN
KELAS A SEJARAH
01 Revolusi Industri
02 Profil Charles W.Babbage
03 Profil Henry R. Towne
04 Profil Henry L. Gantt
05 Profil Frederick Winslow Taylor
06 Profil Gilbreth
07 Perkembangan Teknik Industri masa Perang Dunia II
08 Sejarah Teknik Industri di Indonesia
09 Definisi Teknik Industri Ilmu Dasar Teknik Industri
10 Method Engineering (Teknik Industri)
11 Ergonomi
12
13 Perencanaan dan Perancangan Fasilitas
14 Simulasi
15 Material Handling
16 Riset Operasi
17 Sistem Produksi
18 Manajemen Industri
19 Aktivitas Teknik Industri
20 Karir di bidang Produksi JALUR KARIR
21
22 Karir di bidang Mutu
23 Karir di bidang Sistem Informasi
24 Karir di bidang Pemasaran
25 Karir dibidang Logistik
26 Karir di bidang Manajemen SDM
27 Karir sebagai Wirausaha
28 Karir sebagai Akademisi (Dosen)
29 Profesi Teknik Industri PROFESI DAN PENDIDIKAN TEKNIK INDUSTRI
30 Standar Kompetensi Teknik Industri
KELAS B
01 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)
02 Profil Lulusan Teknik Industri
03 Kurikulum Studi Program Studi Teknik Industri
04 Tantangan ke depan Teknik Industri
05 Teknik Industri Manufaktur
06 Teknik Manjemen Industri
07 Organisasi Profesi Teknik Industri ORGANISASI PROFESI
08 Tanggung Jawab Profesi Teknik Industri
09 Tanggung Jawab dan kewajiban Insiyur TI kepada Masyarakat
10 Program Sertifikasi Insinyur PII
11 Kode Etik Insinyur
12 Tata Laku Profesi Insinyur
13 Menjadi Mahasiswa TI yang berkualitas KULIAH DI TEKNIK INDUSTRI
14 Strategi Belajar di Jurusan TI
15
16 Cara manajemen waktu kuliah TI
17 Kiat lulus tepat waktu
18 Mengatasi problematika Kuliah
19 Organisasi selama perkuliahan
20 Mengatasi kendala biaya kuliah
21 Menemukan gaya belajar sendiri
22 Kiat mendapatkan beasiswa
23 Strategi bekerja sebelum lulus kuliah
24 Persiapan menghadapi dunia kerja
25 Metode Perancangan Kerja PENDEKATAN TEKNIK INDUSTRI DALAM PEMECAHAN MASALAH
26 Metode Perencanaan dan Perancangan Produksi
27
28 Metode Pengukuran Produktivitas
29
30 Metode Pemodelan Sistem
31 Metode Tata Letak Fasilitas
32 Metode Transportasi
KELAS C
01 Metode Pengendalian Kualitas
02
03 Metode Antrian
04 Metode Engineering PENGOLAHAN DATA TEKNIK INDUSTRI
05 Proses Sampling dan pengumpulan data
06 Pengolahan dan penyajian data
07 Pengujian distribusi data
08 Estimasi dan uji hipotesis
09 Formulasi Masalah dan pencarian solusi
10 Perancangan Eksperiman
11 Software pembantu perhitungan Teknik Industri
12 Pengukuran Anthropometri KETERAMPILAN TEKNIK INDUSTRI
13 Pengukuran Biomekanika
14 Pengukuran Beban Kerja
15 Perancangan Stasiun Kerja
16 Perhitungan Waktu Baku
17 Teknik Sampling Kerja
18 Evaluasi Keergonomisan Produk
19 Analisis dan Perancangan Metode Kerja
20 Analisis dan Perancangan Proses Operasi
21 Analisis dan Perancangan Lintasan Produksi
22 Pembuatan Jadwal Induk Produksi
23 Pembuatan Rencana Kebutuhan Material
24 Pembuatan Rencana Kebutuhan Kapasitas
25 Penngendalian Produksi
26 Perancangan Tata Letak Fasilitas
27 Penterjemahan kebutuhan Konsumen
28 Penyusunan Bisnis Plan
29 Analisis Kelayakan Usaha
30 Analisis Ekonomi Teknik
31 Analisis dan Pengendalian Dampak Lingkungan
32 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
33 Reword dan Punishment bagi Karyawan
34 Metode Six Sigma
35 Metode Line Manufacturing
36 Psikologi Industri
KELAS D
01 Persiapan masuk dunia kerja PERSIAPAN MASUK DUNIA KERJA
02 Cara menulis lamaran kerja
03 Seputar psikotes
04 Menghadapi wawancara kerja
05 Tanggung jawab sebagai Karyawan
06 Berprestasi di tempat kerja
07 Memilih perusahaan tempat kerja